Jumat, 24 Juni 2016

Cerita si Anak Tunggal

Ceritanya sore itu mau menghibur teman yang lagi berduka, setelah kepergian ayahnya beberapa waktu lalu. Alih-alih kita yang menghibur eh malah di kasih kata-kata super buat saya pribadi.

"Lu yg kuat ya yas....bokap nyokap tumpuan sama lo doang...kmrn pas bokap kritis..gw pontang panting dicariin bokap, pihak rs dll...entah kenapa teorinya dg load peredaran yg tinggi gtu seharusnya asma gw kambuh, dan gw tepar...
Tapi Masya Alloh...gw lebih fit dr org2 sekitar gw"

Jleeebbbb..
Bagai ketimpuk batu, ungkapan sahabat saya seperti menampar saya mengingatkan "Someday, mungkin kamu akan di posisi itu lho yas!" Sebagai SATU-SATUNYA TUMPUAN.

Walaupun ada suami, dan anak-anak, tetapi ada tanggungan bakti yang harus saya "bayarkan" kepada mama dan papa, yang tidaklah mungkin bisa saya wakilkan atau bagi kepada suami dan anak-anak saya.

Apakah saya Mampu?
Apakah saya sanggup?
Saya HARUS mampu!
Saya HARUS sanggup!

Mungkin mereka atau kalian yang tidak merasakan menjadi kami "Si Anak Tunggal", hanya bisa melihat sisi "Enaknya". Tidak punya pesaing, segalanya hanya buat saya, bahkan tidak jarang yang paling buat saya terkadang ingin mensolasi mulut orang adalah yang bicara tentang "Yaa warisan kan cuma buat elo Yas!"
Yesss semudah itu orang menilai. Dan terkadang mengkerdilkan effort atau usaha yang susah payah kami (si anak tunggal) perjuangkan sendiri.

Sekali lagi, kami adalah
THE ONE AND ONLY,
SATU-SATUNYA TUMPUAN
HARAPAN PERTAMA dan TERAKHIR
Untuk orang tua kami.
Nilai-nilai budi yang mereka ajarkan, akan menjadi Baik atau malah kami jatuhkan karena keteledoran kami di masa yang akan datang, itu semua menjadi tanggung jawab kami.

Well, mungkin ada segelintir anak tunggal yang begitu menikmati takdirnya dengan hanya bermanja-manja pada apa yang telah di berikan orang tua. Tetapi tidak untuk saya!

Sekali lagi, Anak Tunggal bukanlah Anak Manja. Kami punya tanggung jawab serta beban moral yang begitu besar demi menjaga dan memberikan Bakti yang terbaik untuk orang tua yang telah meletakan SATU-SATUNYA TUMPUAN hidupnya.

Semoga saya bisa menjadi Tumpuan yang terbaik untuk mama dan papa.

Senin, 20 Juni 2016

Punya AMBISI pun harus CERDAS!

Usaha yang Hebat itu bukan hanya yang sekedar memiliki Omzet besar dan cepat di kenal banyak orang. Tapi usaha bisa dikatakan hebat apabila sudah memiliki Profit yang terjaga dan akan selalu melekat dalam ingatan siapapun yang mengenalnya.
Sabtu lalu, saya kembali menginjakkan kaki saya ke Ruko di Anggrek. Tempat di mana semua harapan baru selama hampir tiga tahun saya bangun di sana. Ada rindu, haru dan banyak perasaan yang berkecamuk di hati saya. Saya kembali kesana bukan untuk kembali lanjutkan membangun mimpi saya di tempat itu, melainkan hari itu saya dan suami harus mengembalikan kunci dan bertemu dengan pemilik ruko untuk mengakhiri masa sewa yang kami gunakan.

Apakah ini pertanda mimpi dan impian saya berakhir?

Tidak..
Kami memindahkan impian dan harapan kami ke tempat yang baru.

Lebih kecil, lebih kurang terlihat, namun pilihan ini telah melewati wirid yang cukup panjang. Beberapa kali menjalankan Istikharah sebelum membuat keputusan pindahan ini, dan berkali-kali juga saya di berikan mimpi setelahnya selalu suasana toko di rumah yang hadir dalam mimpi tersebut.

Rumah di Alpinia
Rumah yang telah  empat tahun sebelumnya kami tinggali.
Tempat pertama kali kami bahagia membangun keluarga baru berdua pasca menikah.
Tempat saksi kebahagian kami menanti kelahiran anak pertama kami.
Dan sekarang di tempat ini kami akan kembali merapihkan impian kami.

"Mami jangan sedih yah karena toko harus pindah ke rumah? Ingat saja impian mami dulu kan ingin punya toko yang walaupun bukan di keramaian tapi tetap di cari orang bukan? Di sini kita akan berjuang untuk itu mi."
Ahhh..suami saya memang paling tahu bagaimana meredakan perasaan sensitif saya ini.

Tanpa  sekat kaku bangunan sebuah ruko, dengan suasana KENYAMANAN sebuah rumah, di sini saya akan berjuang mewujudkan impian saya yang sesungguhnya akan konsep sebuah Toko Penjualan Perlengkapan Bayi.

Tak apa ketika saya harus menepi sejenak untuk lebih membuat perencanaan yang matang demi perkembangan ke depan usaha kami. Toh memang sudah waktunya kami membangun pondasi yang lebih kuat demi menopang pertumbuhan usaha yang lebih kokoh dan kelak bisa kami wariskan untuk anak cucu kami.

Tutup telinga dan pertebal hati ketika harus mendengar ocehan sekeliling yang mengatakan "Gak sayang sudah punya usaha di tempat bagus, dengan perkembangan yang bagus tapi malah menepi?" 

Usaha yang Hebat itu bukan hanya yang sekedar memiliki Omzet besar dan cepat di kenal banyak orang. Tapi usaha bisa dikatakan hebat apabila sudah memiliki Profit yang terjaga dan akan selalu melekat oleh yang mengenalnya.

Daaaaannnnnnn sekaraaang..
Saya sedang meredam AMBISI saya dengan KECERDASAN yang sebelumnya mungkin sering saya ragukan kalau saya memilikinya :p 
Menata kembali sistem internal dengan mengumpulkan pembelajaran-pembelajaran yang kami temukan sejak pertama kali memulai usaha ini.

Bismillah
Depok, 20 Juni 2016
Tyas Palupi

Jumat, 10 Juni 2016

RIBA OHH RIBA....


Kemarin, timeline Facebook saya di penuhi dengan postingan seorang teman di friendlist, yang menceritakan tentang kisahnya yang pernah terjerat dalam RIBA dan perjuangannya dalam usaha melepaskan jeratan tersebut. Dan pagi ini postingannya tersebut telah di share dan mendapatkan komentar yang jumlahnya sudah mencapai ribuan. Banyak PRO dan KONTRA yang pasti terjadi dalam komentar-komentar pada postingan tersebut. 

Terlepas dari pro dan kontra yang terjadi, harus diakui bahwa tulisan pada hadist yang saya tuliskan di atas pembuka tulisan ini telah terjadi kebenarannya saat ini. Praktek RIBAWI memang telah merajalela. Dan Saya pun PERNAH atau malah bisa dikatakan MASIH BERJUANG untuk membersihkan sisa riba yang lampau. 

Mirip dengan apa yang di alami teman saya tadi, saya pun sempat TERLENA dalam buaian semu jeratan ribawi. Kalau boleh sedikit membela diri, awalnya mungkin saya dan suami tidak menginginkan harus masuk dan nyaris tenggelam karena jeratan ribawi tersebut. Tetapi keadaan memaksa kami untuk berkenalan dengan hutang demi hutang dan kredit bank.

Perusahaan suami saya yang pada awalnya mendapatkan "Janji-Janji Manis" bahwa usaha kami akan mendapatkan support ternyata NOL BESAR. Dan pada akhirnya kami harus menjalankan project demi project yang telah masuk dalam proses, dengan mengandalkan KREDIT BANK. Bukan hanya sekedar surat dukungan, karena kami masih tergolong usaha kecil yang memulai semua dari Nol, kami terpaksa harus berkenalan dengan KREDIT TANPA AGUNAN. Memang betul prosesnya sangat mudah dan sekali memulai, akan terus menerus mendapatkan kemudahan demi kemudahan untuk menambah nilai hutang kami. Dan hingga pertengahan tahun 2015 kemarin hutang kami sudah bukan saja ratusan juta nilainya tapi sudah hitungan MILYAR!

Dan betul yang banyak di katakan dan apa yang sudah tertulis jelas dalam Al Qur'an, bahwa praktek RIBA ini hanya akan mendatangkan kesengsaraan demi kesengsaraan. Bukan mendapatkan kekayaan atau harta yang bertambah, hidup kami bisa dikatakan nyaris BERANTAKAN. Dari mulai tagihan macet yang pada akhirnya membuat kami tidak sanggup tepat waktu dalam membayar angsuran, hasil dari usaha toko kami, yang padahal modalnya saja tidak menggunakan kredit bank, juga harus merasakan dampaknya. Penjualan Toko yang besar pun tidak dapat sempat kami rasakan dikarenakan harus digunakan untuk menutupi tagihan demi tagihan. 

Harus diakui BERAT sekali menjalani hari demi hari pada masa itu. Tapi ketentuan ALLAH itu memang INDAH. Di akhir keputus asaan kami akan alur hidup kami semasa itu, Allah mengijinkan kami untuk berkunjung dan memulai muhasabah melalui perjalanan ke tanah sucinya di awal tahun kemarin. Sudah banyak kami mengeluh dan akhirnya kembali menyusahkan orang tua kami karena keterpurukan ini. Di kesempatan ibadah di tanah suci, saya dan suami menumpahkan semua beban di hati dan memohon ampunan dalam setiap sujud. Entah berapa banyak air mata penyeselan yang kami tumpahkan setiap sujud baik di masjid Rasulullah atau di hadapan Baitullah. Dan hasilnya TITIK BALIK kami pun dimulai. 

Sepulang dari Umroh, mata dan hati kami seperti semakin dibukakan Allah. Informasi tentang larangan riba dan apa saja dampaknya dengan mudah sampai untuk kami. Muhasabah kami semakin dalam. Dan terus saja kami mohon ampun atas DOSA yang telah membawa kami dalam jurang hampir kehancuran. Dan mungkin saat ini belum bisa saya ceritakan dengan gamblang bagaimana pada akhirnya saat ini, satu persatu Allah membersihkan harta kami dan menyelesaikan masalah kami. Dan JANJI Allah itu PASTI, bukan hanya membersihkan dan menyelesaikan tetapi bahkan Allah mulai mengganti kesulitan kami dengan kenikmatan-kenikmatan yang tidak kami duga dan bisa kami sangka. SUBHANALLAH!

Sebagai umat muslim yang harus berpegang kepada ajaran Al - Qur'an, kita WAJIB meyakini bahwa memang sebisa mungkin menjauhkan diri dan praktek RIBA! Karena JELAS tertulis dalam beberapa ayat Al - Qur'an yang sangan MELARANG praktek riba seperti yang akan saya coba tuliskan di bawah ini:

يَمْحَقُ اللهُ الرِّبَوا وَيُرْبِى الصَّدقَتِ واللهُ لاَيُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ اَثِيْم 
Artinya: “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah SWT tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa. ” (Q.S. Al-Baqarah: 276) 

يَايُّهَا الَّذِىْنَ أَمَنُوْا التَّقُوْا اللهَ وَذَرُوْا مَابَقِيَ مٍنَ الرِّبَوا اِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ 
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut), jika kamu orang yang beriman.” (Q.S. Al-Baqarah: 278)

 وَاَخْذِهِمُ الرِّبَوا وَقَدْ نُهُوْا عَنْهُ وَاَكْلِهِمْ اَمْوَالَ النَّاسِ بِاالْبَاطِلِ وَاَعْتَدْنَا لِلْكَفِرِيْنَ مِنْهُمْ عَذَابًا عَلِيْمًا
Artinya: “Dan disebabkan karena mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” (Q.S. An-Nisa: 161)

Tanpa bermaksud menggurui atau merasa UJUB diri, saya hanya ingin mengingatkan kepada saudara, keluarga, teman dan sahabat yang mungkin membaca tulisan saya ini, bahwa, mungkin saat ini kita telah berada pada masa di mana praktek RIBA tidak dapat 100% kita hindari. Seperti pada hadist yang disebutkan di atas :".......yang (berusaha) tidak memakannyapun akan terkena debu (riba) nya.". Jadi, sebisa mungkin jauhkan lah diri kita atau paling tidak kita hanya terkena debunya saja dari dosa riba ini.

Maksudnya bagaimana?
Mudah saja, yang terbiasa memudahkan diri untuk melakukan transaksi dengan Kartu Kredit misalnya, mulai sekarang jika transaksi yang hendak dilakukan bukan merupakan kebutuhan yang mendesak, dalam arti tidak mengancam nyawa atau menyengsarakan ya di tunda saja. Penjelasan lainnya mungkin bisa di tanyakan kepada yang lebih ahli lagi :)

Salam
@tyaspalupi

Senin, 06 Juni 2016

Puasa "Pertama"

Yeiiiyyyyyyyyy...!!

Hari ini bukan hanya hari pertama bulan Ramadhan. Karena buat saya, hari ini adalah betul-betul Ramadhan yang PERTAMA kali setelah dua tahun berturut-turut saya absen puasa! 😂

2014 - Saat awal hari pertama Ramadhan terpaksa harus saya lewati di Rumah sakit. Hal ini dikarenakan kehamilan kedua saya yang saat itu baru memasuki usia tiga bulan saat itu disertai dengan syndrome ngidam yang luaarrrrrr biasaaaaa membuat saya antipati dengan makanan sampai akhirnya harus di infus. Dan yang serunya lagi, menjelang akhir bulan puasa di tahun ini, jugaharus saya lewati di Rumah Sakit karena terkena cacar air.
Fhiuuuuuuhhhhh...nyaris saya dan keluarga saat itu akan melewati Idul Fitri di rumah sakit. Karena pada akhirnya saya bisa keluar pada H-1 menjelang hari raya juga dengan menggunakan surat perjanjian. 😅

2015 - Ramadhan di tahun ini si Ade Zhafran baru menginjak usia 4 bulan. Niat saya dan suami untuk memberikan full ASI Eksklusif sampai si Ade usia 6 bulan memaksa saya tidak dapat menjalankan ibadah puasa di tahun ini.
Eittttsssssss, jangan nyinyir dulu soal keimanan yah.
Keputusan ini saya ambil bukan tanpa percobaan terlebih dahulu. Semua anjuran tips-tips sukses menyusui selama berpuasa yang saya baca dari majalah, google sampai obrolan nyinyir para mamuce (mama muda cekaliii) sudah saya jalankan!
Mengupayakan pola makan yang sehari 3 kali di optimalkan pada saat sahur dan berbuka.
Hasilnya?
Sukses puasa hari kedua saya mencret-mencret karena perutnya kepenuhan. 😂
Saya coba lagi di hari ke empat setelah perut membaik untuk mengurangi porsi makan dari hari sebelumnya, yang terjadi adalah maag saya kambuh saudara -saudara!

Jadi, jika saya boleh membela diri, bukan hanya sekedar alasan karena hamil dan menyusui saya tidak menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan dua tahun kemarin.

Dan hari ini, di tahun 2016 ini walaupun saya masih tetap menyusui si Ade, Alhamdulillah saya sudah lebih siap dan Insha Allah dimampukan untuk merasakan lagi kenikmatan berpuasa di bulan Ramadhan.

Bulan seribu bulan, dimana bertabur berkah dan ampunan. Insha Allah saya ingin ikut serta dalam "kompetisi" di bulan ini untuk sebanyak-banyaknya meraih kemenangan AMPUNAN, BERKAH serta RAHMAT dan HIDAYAH dari Allah SWT.

Selamat berpuasa
Mohon Maaf Lahir dan Batin
Semoga kita bisa meraih KEMENANGAN di Bulan yang penuh BERKAH ini.

Love,
Tyas Palupi

Rabu, 01 Juni 2016

My BAPER Mood ON

Sejak mengatakan ingin melakukan semacam INOVASI HATI di akhir tahun 2015 lalu, saya banyak menemui banyak HAL yang membuat saya merasakan bahwa ALAM menyetujui dan bahkan mendukung penuh niat tersebut.

Entah saya harus mulai dari mana tulisan ini, yang jelas saat ini saya sedang merasa berada dalam proses MUHASABAH diri yang cukup panjang dan dalam. Belum tahu sampai kapan proses ini akan saya akhiri. Atau mungkin proses ini memang sesungguhnya tidak ingin saya akhiri hingga SANG MAHA PENCIPTA yang mengakhiri seluruh proses kehidupan saya.

Hari demi hari saya lalui, masalah demi masalah saya lewati, entah berapa banyak manusia baru yang saya telah temui. Semua meninggalkan PELAJARAN yang saya resapi.
Ahhhhhhhhh..
Mungkin bagi bahasa kekinian sekarang saya terlalu BAPER!

Yaa saya BAPER..
Saya BAPER akan semua KESALAHAN yang pernah atau bahkan masih bersarang di HATI saya.
Saya BAPER akan keMINIMan ILMU untuk lebih DEKAT dengan SANG PENCIPTA!
Saya BAPER karena ternyata selama ini saya telah melangkah jauh mendahului KEHENDAKNYA!
Saya BAPER karena saya TIDAK PERNAH TAHU berapa lama lagi saya bisa BERNAFAS!
Saya BAPER apakah saya masih diberi kesempatan untuk BERTAUBAT?
Saya BAPER melihat ORANG TUA kami yang semakin MENUA namun kami masih belum sempat BERBAKTI...

Dan pada akhirnya saya memilih untuk ter DIAM.
Dalam DIAM saya MELIHAT lebih LUAS
Dalam DIAM saya BERSUJUD lebih DALAM
Dalam DIAM saya MERASAKAN banyak getaran yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya.

Entah butuh berapa lama saya harus TERDIAM dan meresapi segala keBAPERAN saya, hingga saya menemukan arti dari dan bisa lebih di Cintai ALLAH SWT.

Depok, 1 Juni 2016
@tyaspalupi