Tampilkan postingan dengan label perlengkapan baby. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perlengkapan baby. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 April 2016

Cerita Tentang si Salmon dan Filosofinya

"Mbak jualan ikan yah?"
Atau...
"Eh kirain toko ikan mbak..hehehe"
Yaahh begitulah kira-kira ekspresi atau ungkapan yang saya sering temui jika menyebutkan BABY SALMON SHOP. Saya di kira tukang ikan atau jualan makanan ikan dan macam ikan-ikan lainnya. hehehe.
Tapi gak baper sih, wajar aja kalau yang beranggapan seperti itu karena mereka belum tahu kalau sebetulnya Baby Salmon itu adalah toko perlengkapan bayi. Dan sejujurnya currious effect ini yang memang sejak awal ingin saya timbulkan dengan memberikan nama menggunakan nama ikan. Kenapa saya menginginkan adanya currious effect, karena saya percaya ketika orang penasaran atau merasa heran akan keanehan dan ketidak biasaan suatu hal, justru itu akan lebih melekat diingatan mereka, POIN Pertama. *Teori ala Tyas* :p
Tapi merunut kebelakang, mengapa sampai saya menemukan nama ini bukanlah perkara yang istilahnya asal goblek dan hanya berdasarkan asumsi teori ala-ala saya tadi lho. Ini sudah saya coba pertimbangkan dengan melewati masa pencaharian tujuh hari tujuh malam, dengan mendaki gunung dan melewati lembah, serta dengan kekuatan bulan yang akan menghukumu! *Woiiii..fokuusss yaasss, mau cerita apa mau nonton Sailormoon sih?!
*upss maaf..oke balik serius
Jadi ketika saya dan suami sudah matang untuk memulai menjalankan usaha Penjualan Perlengkapan Bayi, masalah kedua yang kami pikirkan adalah masalah nama. Nama bukan hanya sembarang nama yang hanya akan menjadi tulisan sebagai simbol pada spanduk, ataupun Logo, tetapi saya menginginkan nama tersebut memiliki filosofi mendalam yang bisa memberikan aura energi positif bagi kelangsungan dan semangat pertumbuhan bagi usaha kami kelak. *Tsaaaahhhh Kibas Jilbab*
Menolak Ide dari suami dan beberapa masukan kerabat dekat untuk menggunakan nama Anak sebagai nama toko, karena saya anggap menggunakan nama Anak sudah sangat amat terlalu Mainstream pemirsa! Akhirnya pada suatu subuh, entah awalnya bagaimana saya juga agak lupa, saya terpikir dengan ikan Salmon. Dan pikiran saya saat itu sebetulnya berasal dari alasan yang sepele khas mama-mama muda yang merasa kekinian waktu anaknya mulai kasih MPASI adalah memberikan makan anaknya IKAN SALMON. 
Harga daging ikan salmon di pasaran maupun di supermarket cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan ikan lainnya, tetapi kandungan gizinya dipercaya cukup tinggi dan bagus bagi perkembangan bayi, maka tidak heran banyak ibu-ibu yang bela-belain merogoh kocek lebih dalam untuk bisa menyediakan menu bubur salmon, atau olahan salmon lainnya untuk sang buah hati tercinta.
Berangkat dari kesimpulan hasil pengamatan inilah yang selanjutnya menjadi POIN Kedua yang membuat saya ingin menggunakan nama Salmon sebagai label usaha kami. Kami ingin barang-barang atau produk bahkan service yang kami berikan di toko kami, akan menjadi sesuatu yang "bergizi" untuk mendukung tumbuh kembang bayi dan anak-anak, sehingga para orang tua bisa merasakan manfaat berbelanja produk di kami sama halnya dengan mereka berusaha memberikan ikan Salmon demi memenuhi gizi buah hati mereka. Yaa kami ingin dicari dan menjadi sesuatu yang "Di bela-belain" istilahnya, walaupun ada yang lebih murah tetapi kami bisa mempunyai nilai yang lebih dibandingkan yang lain.
Dan POIN Terakhir, justru saya temukan ketika toko mulai berjalan dengan menggunakan nama Salmon. Seperti yang telah banyak di kutip dan dituliskan di berbagai macam media, mari kita simak kisah FILOSOFI IKAN SALMON dan HIU KECIL berikut ini :
FILOSOFI IKAN SALMON dan HIU KECILUntuk masakan Jepang, kita tahu bahwa ikan salmon akan lebih enak untuk dinikmati jika ikan tersebut masih dalam keadaan hidup saat hendak diolah untuk disajikan, Jauh lebih nikmat dibandingkan dengan ikan salmon yang sudah diawetkan dengan es.
Itu sebabnya para nelayan selalu memasukkan salmon tangkapnya ke suatu kolam buatan agar dalam perjalanan menuju daratan salmon-salmon tersebut tetap hidup. Meski demikian pada kenyataannya banyak salmon yang mati di kolam buatan tersebut. Bagaimana caranya mereka menyiasatinya? Para nelayan itu memasukkan seekor hiu kecil di kolam tersebut. Ajaib! Hiu kecil tersebutt ‘memaksa ‘ salmon-salmon itu terus bergerak karena jangan sampai dimangsa. Akibatnya jumlah salmon yang mati justru menjadi sangat sedikit !Diam membuat kita mati! Bergerak membuat kita hidup.
Barangkali kurang lebih itulah pesan moral yang dapat kita tangkap dari gambaran tersebut diatas.
Apa yg membuat kita diam?
Saat tidak ada masalah dalam hidup dan saat kita berada dalam zona nyaman. Situasi seperti ini kerap membuat kita terlena. Begitu terlenanya sehingga kita tidak sadar bahwa kita telah mati. Ironis , bukan?
Apa yang membuat kita bergerak?
Masalah, pergumulan dan tekanan hidup.
Saat masalah datang secara otomatis naluri kita membuat kita bergerak aktif dan berusaha bagaimana mengatasi semua pergumulan hidup itu.
Disaat saat seperti itu biasanya kita akan ingat Allah dan berharap kepada Allah . Tidak hanya itu, kita menjadi kreatif, dan potensi diri kitapun menjadi berkembang luar biasa!
Ingatlah bahwa kita akan bisa belajar banyak dalam hidup ini bukan pada saat keadaan nyaman, tapi justru pada saat kita menghadapi badai hidup
Itu sebabnya syukurilah ‘hiu kecil’ yang terus memaksa kita untuk bergerak dan tetap survive!
Masalah hidup adalah baik, karena itulah yang membuat kita terus bergerak…dan menjadi tangguh.
Cerita di atas mengajarkan tentang kekuatan untuk terus BERGERAK. Ikan Salmon yang notabene jauh jika dibandingkan dengan hiu, justru malah survive ketika harus berhadapan dengan hewan pemangsanya tersebut.
Kembali ke spirit yang ingin saya bangun di usaha ini adalah, di Luar sana, di sekeliling kami, kami harus bersaing dengan ribuan bahkan jutaan toko-toko bayi besar yang sudah lebih dulu mempunyai nama, pelanggan dan lebih di kenal orang. PR terbesar kami adalah tidak boleh patah semangat dan terus bertumbuh untuk bisa menghadapi persaingan. Belajar dari filosofi di atas, kami adalah salmon kecil yang mungkin saja akan di mangsa oleh Hiu Kecil (para pesaing), tetapi kami yakin kami akan terus bergerak dan bertahan untuk terus BERTUMBUH, HIDUP dan MAJU!

Yessss this is Us..This is Our Store That Be Build Fullfill with LOVE.
BABY SALMON SHOP
We Served It With LOVE


Depok, 14 April 2016
Tyas Palupi
Owner Baby Salmon Shop

Rabu, 13 April 2016

Gak Pernah Jualan, Sekarang CINTA Sama Dunia JUALAN!

Dunia dagang atau jualan bisa dibilang termasuk hal baru untuk saya. Maklum, dari kecil sampai kurang lebih 3 tahun yang lalu saya belum pernah sekalipun melakukan aktivitas Jualan, bahkan sekedar jualan dari teman ke teman.
Kalau dibilang punya cita-cita untuk bisa jualan, bisa iya bisa juga enggak.
Tapi ternyata sekarang I Love my Job, My Daily Routine, and My New Experience!

Semua ini berawal ketika saya sedang mengandung anak pertama saya, ketika kehamilan saya memasuki usia 8 bulan, saya dan suami iseng mengisi weekend untuk jalan-jalan ke Bandung. Berbekal informasi dari sepupu kami di sana ada Toko Perlengkapan Bayi yang recommended untuk di sambangi. Karena kebetulan usia kehamilan sudah melewati masa pantangan untuk berbelanja, jadilah hari itu saya dan suami sengaja mampir ke sana dan berbelanja perlengkapan untuk persiapan kelahiran si kakak.
Masuk ke Baby Shop atau pusat perlengkapan bayi yang bisa dibilang cukup lengkap dan nyaman di sana jujur saja merupakan pengalaman baru buat saya. hehe maaf agak norak yah? Maklum saja terlahir dan besar sebagai anak tunggal tentu saja membuat saya jarang menyambangi tempat-tempat semacam ini sebelumnya, kalaupun ada keperluan untuk membeli hadian bagi teman atau keluarga biasanya hanya mampir di toko-toko kecil atau sekalian di supermarket.
Whoaaahhhhhhhh...Kalaaaap deh pokoknyaaaaa!
Tetapi Insting dagang suami, yang memang sudah cukup menginfluence saya untuk mulai menyukai dunia entrepreneur langsung bilang "Seru kayaknya ma, kalau kita bisa buka toko perlengkapan baby kayak gini yah?" Daaaannnn saya pun langsung menyetujui idenya saat itu.
Tapiiii...
Tidak saat itu juga kami langsung mengeksekusi keinginan kami tersebut, butuh dua tahun berikutnya kami baru betul-betul merealisasikan niat kami ini.
Berbekal hasil menyambangi beberapa pusat perlengkapan baby di Jakarta, Depok dan beberapa daerah lain yang pernah kami singgahi, ala-ala riset pasar dan kumpulin Ide, Alhamdulillah pada tahun 2014 lalu kami mulai mengeksekusi niatan kami untuk membangun usaha bersama sebuah Toko Penjualan Perlengkapan Kebutuhan Bayi, Ibu Hamil dan Menyusui yang harapan kami bisa menjadi Pusat Perbelanjaan terlengkap di Kota Depok.



Yaaaaa... dan sekarang, saya begitu menikmati peran saya sebagai penjual pakaian dan kebutuhan perlengkapan bayi, ibu hamil serta ibu menyusui untuk toko saya. Awalnya jujur saja waktu pertama toko buka, saya pun sempat merasakan canggung bagaimana menghadapi customer, bagaimana kalau mereka tidak puas, bagaimana mengahadapi komplainan. 
Tapi berbekal semangat dan terus melawan rasa takut demi mewujudkan cita-cita Alhamdulillah lama-lama saya mulai enjoy dan sangat menikmati pekerjaan ini. Bisa bertemu dengan banyak orang dan beragam karakter setiap harinya. Bisa bertukar cerita dengan para calon ibu yang sedang menunggu kelahiran buah hatinya. Melihat ekspresi kebahagian dari pasangan-pasangan baru yang sedang menanti kelahiran buah cinta pertama mereka itu terkadang membuat perasaan kita seperti terbius oleh aura bahagia mereka juga lhoo..
Ahh.. Subhanallah..



The Poin is..
Tidak ada yang tidak bisa kita lakukan jika kita mau terus belajar dan berusaha.
Jadi, Bukan masalah BISA atau TIDAK BISA, Tapi lebih ke masalah MAU atau TIDAK MAU  untuk mencoba.



- Tyas Palupi -