Rabu, 30 Maret 2016

FOOD REVIEW --- AL ABAIK CHICKEN

Jauh-jauh hingga ke Mekkah tidak lain dan tidak bukan ketemunya sama Fast Food.
Eits, tunggu dulu, Fast Food yang satu ini beda dari fast food kebanyakan yang ada di Indonesia sendiri.

TAAAAADAAAA......

AL BAIK Chicken 

1 paket AL BAIK yang saya coba ini isinya terdiri dari:
- 4 Potong Ayam dengan potongan yang cukup besar-besar
- French Fries
- dan 1 Roti Burger
- Garlic Sauce
- Tomato Ketchup

Ayam goreng khas FAST FOOD dengan tepung namun di bumbui dengan khas rempah timur tengah membuat cita ras ayam AL BAIK ini meresap hingga ke dalam potongan dagingnya. Di tambah campuran garlic sauce dan saus tomat sebagai olesan membuat sensasi tersendiri di lidah.
Uhmmmm so yummyyyyy...
Sayangnya saat itu di sana saya tidak bertemu dengan Nasi Putih dan cukup membayangkan jika kelezatan ayam AL BAIK ini di sajikan dengan nasi putih hangat...uhmmmm pasti lebih nikmaattt..

Jika anda sedang berkunjung ke sana jangan sampai melewatkan kesempatan untuk mencicipi hidangan Fast Food ala timur tengah yang satu ini yah :)

Penampakan 1 Paket Al Baik



IKHLAS ITU URUSAN HATI

"Saya ikhlas bla...bla...blaa..."
Atau,
"Si Anu bilang katanya, ihh aku ini orangnya tulus banget yah, berasa lhoo dari pembawaannya" 
Abis ini hati langsung berbunga-bunga, hidung kembang kempis, kaki berasa tidak menginjak bumi, badan rasanya melayang sampai ke langit ke tujuh!

Apa ini yang dinamakan IKHLAS????

Lain Waktu, tiba-tiba mendengar sesuatu yang kita lakukan dengan niat membantu orang lain atau dengan niat baik tetapi malah mendapatkan cacian dan cemoohan dari orang, lalu kita tersulut emosi dan marah-marah.
Pasang status di semua sosmed.
Sibuk mencari pembenaran diri.
Sibuk menginterogasi orang untuk mencari pengakuan dan membersihkan nama.

Apa benar kita sudah IKHLAS????

Ikhlas itu urusan HATI.
Mudah saja kita berkata kepada orang lain bahwa kita sudah ikhlas, tapi apakah kita sudah jujur dengan perasaan yang keluar dari hati kita sendiri?
Apakah kata Ikhlas yang keluar dari mulut ini, memberikan rasa TENANG dan NYAMAN di dalam hati?
Atau hati kita sebetulnya masih mencari suatu PEMBUKTIAN yang lebih dari sekedar kata IKHLAS?

Pada suatu pengajian, seorang guru berkata:
"Seseorang yang betul-betul merasakan IKHLAS dari dalam hatinya kerena mengharap Ridha ALLAH maka dia tidak GEMBIRA ketika disanjung, dan tidak KECEWA walau di cemooh. Dua hal yang bertolak belakang itu tidak akan merubah sikap dan sifatnya."

Apakah kita sudah mampu seperti itu?
Sekali lagi IKHLAS adalah urusan HATI..
Mari kita sinkronkan hati kita agar selaras dengan perbuatan dan tidak hanya menjadi kata-kata manis  yang keluar sebagai PEMANIS LIDAH..


-Tyas Palupi-

Selasa, 29 Maret 2016

MDR Ohhh.. MDR

Sebagai pemilik usaha yang memiliki mesin EDC sebagai alat pembayaran di toko saya, tidak lah asing bagi saya menerima keluhan dari customer terkait pengenaan MDR (Merchat Discount Rate) untuk penggunaan kartu kredit maupun debit yang berlainan bank dengan Provider EDC kami.



Apa sih MDR itu?
MDR atau Merchant Discount Rate secara simple dapat diartikan berupa Fee yang di kenakan oleh bank kepada merchant yang dalam kasus ini bisa di ambil contoh adalah toko saya.

Sebagian orang, atau bahkan saya sendiri tadinya sempat beranggapan bahwa charge yang dikenakan jika kita menggunakan kartu kredit adalah akal-akalan dari si empunya toko. Nyatanya memang charge itu sesungguhnya menjadi beban yang harus kami sebagai pemilik toko bayarkan kepada pihak bank. Cuma yang membedakan nilainya adalah masa kerja sama dan nilai transaksi yang disepakati oleh kedua belah pihak untuk menetapkan tarif prosentate MDR yang dikenakan.
Untuk awal kerja sama biasanya pihak bank menetapkan 2-3% untuk nilai MDRnya, setelah berjalan, pihak merchant bisa mengajukan permohonan untuk penurunan tarif tersebut.

"Tapi, saya belanja di mall seperti M****** gak kena Charge mbak?"
Sekali lagi, saya pun sempat berpikiran seperti ini, sampai saat ini setelah begitu banyak penawaran untuk pemasangan EDC di toko saya, saya selalu negosiasi untuk tidak dikenakan MDR dikarenakan saya tidak ingin memberatkan customer dan tentu saja saya juga ingin berusaha memberikan benefit yang hampir menyerupai mall-mall tersebut agar menjadi daya tarik orang untuk berbelanja di sini.
Tetapi ternyata jawaban dari semua Vendor bank menyatakan, 
"Jika di suatu merchant pada saat pembayaran tidak dikenakan charge, bisa jadi karena itu merupakan merchant besar yang mungkin fasilitas untuk rate MDRnya sudah sangat kecil dan mereka sudah memasukan perhitungan charge tersebut dalam harga jual produk"
Jadi kesimpulannya semua merchant yang menggunakan EDC pasti menanggung beban MDR, tinggal bagaimana pemilik usaha melimpahkannya kepada customer.

Sempat terpikir untuk melakukan hal itu sih, namun rasa-rasanya tidak adil jika saya me mark up harga jual untuk menutupi MDR sementara yang berbelanja tidak selalu orang yang membayar dengan non tunai kan?
Di tambah lagi urusan ini masih abu-abu bagi saya apakah saya termasuk melakukan praktek riba atau tidak jika hal ini saya terapkan di toko saya?
Setelah melalui pertimbangan matang dan Alhamdulillah rate MDR kami sudah bisa kami turunkan maka kami memutuskan untuk tetap menerapkan MDR sesuai dengan Rate yang kami terima sebesar 1,8% untuk mesin EDC MANDIRI dan 2% untuk mesin EDC BCA. Charge ini tentu saja hanya berlaku untuk pengguna KARTU KREDIT dan KARTU DEBIT SELAIN MANDIRI dan BCA :)