Berbeda dengan aktivitas anak-anak, kalau untuk perkantoran khususnya di beberapa perusahaan yang bergerak di consumer goods atau service, biasanya hanya para karyawan wanita yang berubah tampilan menggunakan kebaya dengan kain batik. Seperti tanggal 21 kemarin saat makan siang saya melihat pelayan wanitanya menggunakan kebaya encim atau kutu baru yang dimodifikasi. Sayang saya lupa photo-photo mereka. Lagipula khawatir mereka nanti ke Ge-eran kalau saya ajak photo sih. (hehehehehehehehe....)
Lain di dunia nyata, lain pula dengan dunia maya atau perbincangan Netizen di tanggal 21 April lalu. Satu hal yang membuat saya sempat kaget adalah beredarnya banyak situs atau link yang bertajuk "PERINGATAN HARI KARTINI ADALAH PEMBOHONGAN SEJARAH."
Jreeeeeeennnnnnggggggggggggggggggg....!
Sebagai masyarakat dan perempuan yang bukan ahli sejarah (maklum saya belajar sejarah cuma dari kelas 1 SD sampai kelas 3 SMA, itupun jaman SMA belajar juga kalau mau ujian doang), jujur saya agak kaget dan kepo juga untuk membuka link demi link yang bertebaran di newsfeed social media saya. Daaaannnn...hasilnya membuat saya semakin kepo pemirsa! hahaha
Banyak perdebatan di sana yang pada intinya sebagian besar mempertanyakan seperti ini:
"Mengapa hanya Kartini yang hari lahirnya di peringati sebagai hari nasional, sedangkan dalam sejarah banyak sekali Pahlawan Nasional yang bahkan berjuang langsung berperang dengan mengorbankan darah dan nyawa tetapi namanya tidak seterdengar Kartini?"
Tentang Pengorbanan darah dan nyawa ada lagi penjelasan yang menjelaskan seperti ini:
"Kartini itu tidak berperang dengan mengangkat senjata kepada penjajah, bahkan Kartini justru berada di lingkungan priyayi atau bangsawan yang amat dekat hubungannya dengan kolonial masa itu."
Ahhhh sudah lah saya pada akhirnya pusing dengan itu. Tidak ingin ikut memanaskan suasana atau langsung berkomentar mana yang salah atau benar, tetapi saya malah tertarik untuk melihat kembali sejarah siapa itu R.A Kartini dan apa perbedaan beliau dengan Pahlawan lainnya?
Sampai di sini saya jelaskan dulu, kalau harapan kalian yang membaca tulisan ini adalah kemudian saya akan menuliskan biografi pahlawan-pahlawan wanita nasional. Upsssss maaf..Anda salah! hehe..Sekali lagi saya bukan ahli sejarah, dan batas kekepoan saya terkadang tidak mengantarkan saya sampai sedemikian dalam dan belum bisa untuk menuliskan Biografi. Tetapi saya menemukan beberapa tulisan dan pemikiran menarik yang menjadi renungan untuk PRIBADI saya, dan saya harap mudah-mudahan juga bisa menjadi renungan para WANITA, IBU dan PEREMPUAN "masa kini" yang membaca tulisan saya ini dikemudian hari.
Oke, mari kita lanjutkan..
Setelah saya membaca link demi link kontroversial tersebut, ada dua hal yang menarik untuk saya yang pertama seperti yang tadi saya sebutkan yaitu menengok kembali tentang sejarah R.A. Kartini.
Raden Adjeng Kartini, lahir di Jepara Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879. Beliau berasal dari keluarga priyayi atau kelas bangsawan jawa. R. A Kartini di kenal hingga saat ini melalui karya-karya tulisan yang banyak beliau buat semasa hidupnya yang bercerita tentang kehidupan wanita pribumi di masa itu. Salah satu tulisannya yang menjadi cikal bakal adanya istilah Emansipasi Wanita yaitu karyanya yang betajuk "Habis Gelap Terbitlah Terang."
Dan di saat saya sedang mencari-cari sejarah tentang R.A Kartini, dikarenakan banyaknya berita kontroversial yang beredar fokus saya pun langsung terpecah untuk mengamati pemberitaan pahlawan nasional wanita lainnya. Dan bodohnya saya adalah saya malah dalam hati baru terpikir "Ohhhhh.. ternyata banyak yah pahlawan nasional wanita di Indonesia" , maklum yang saya ingat pun hanya sebatas R.A Kartini dan Cut Nyak Dien hehehe..
Dalam pencarian saya tersebut ada satu tulisan yang betul-betul menarik untuk saya telaah dan resapi. Yaitu tulisan dari ROEHANA KOEDOES. Beliau adalah seorang pendiri surat kabar perempuan pertama di Indonesia. Roehana Koedoes lahir di koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 20 Desember 1884. Semasa hidupnya beliau juga merupakan wartawan Indonesia. Seperti yang banyak dilansir media elektronik, Roehana hidup di zaman atau era yang sama dengan Ibu Kartini. Di mana pada masa itu, diskiriminasi untuk kaum perempuan mendapatkan pendidikan yang layak amat sangat dibatasi. Dengan berbekal semangat dan perjuangannya beliau mendirikan sekolah khusus untuk perempuan. Untuk yang ingin tahu lebih detail tentang siapa dan apa saja yang telah di lakukan oleh Roehana Koedoes bisa search di beberapa media online. Karena sekali lagi saya bukan ingin menguraikan sejarah masing-masing pahlawan wanita di Indonesia dalam tulisan ini.
Nah, poin menarik yang menjadi tujuan pencarian saya jatuh pada sepenggal karya tulisan dari Ibu Roehana Koedoes, yang sempat juga saya posting dalam status Facebook saya beberapa waktu lalu, yaitu:
"Perputaran Zaman tidak kan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala KEMAMPUAN dan KEWAJIBANNYA. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat PENDIDIKAN dan PERLAKUAN yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani. berAKHLAK dan berbudi pekerti luhur, TAAT BERIBADAH yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ILMU PENGETAHUAN."JLEEEEEEBBBBBBBBBBBBBB...
MAAAKKKJLEEEBBBBBBBBBBBBBBBBB..
Itu yang saya rasakan ketika membaca sepenggal tulisan ini. Semakin di resapi membuat saya kembali merenung dan muhasabah diri sendiri. Sebagai perempuan masa kini atau bahasa kerennya "yang kekinian" entah sudah berapa lama saya juga terlena untuk melupakan KODRAT atau KEWAJIBAN utama saya sebagai perempuan.
Merasa beruntung memiliki kebebasan dan kemerdekaan untuk bisa mengenyam pendidikan ke jenjang yang tinggi, telah membuat saya di penuhi ambisi untuk menyamai kedudukan atau bahkan lebih tinggi dari laki-laki. Di mana AKHLAK saya sebagai istri? sering kali karena terlalu lelah mengejar ambisi dunia, saya bangun tidur saja lebih siang dari suami saya. Alasan lelah, pusing, dan semacamnya mungkin sudah jadi santapan sehari-hari yang harus kami temui. Padahal seperti yang di sampaikan dalam kalimat terakhir tulisan Roehana di atas adalah harus TAAT BERIBADAH. Sejatinya, ilmu pengetahuan yang di dapatkan oleh wanita haruslah membawa kita untuk lebih taat beribadah.
Sebagai seorang muslim, dalam ayat Al-Qur'an maupun Hadis telah di janjikan bahwa Wanita adalah Kunci Surga! Bagaimana bisa kita menjadi kunci surga yang akan membukakan pintu-pintu surga untuk para suami, ayah, anak-anak kita jika kita saja sudah lupa dan terlena akan ambisi untuk menyamai kedudukan laki-laki?
Sebuah renungan untuk diri saya sendiri, seorang istri dan ibu dari dua malaikat kecil kami, yang saat ini sedang mencari jalan Ridha Allah agar bisa mempersiapkan Surga untuk keluarga tercinta baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Apapun kontroversi yang terjadi seputar Pahlawan-pahlawan wanita, sepatutnya kita tetap harus berterima kasih atas segala perjuangannya. Karena Bangsa yang Besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa para pahlawannya.





















