Alhamdulillahirabilalamin...
Kata itu tak putus-putus diucapkan ketika Pesawat kami sudah mendarat di Bandar Udara King Abdul Aziz Madinah.
Setelah melewati Pengecekan di bagian imigrasi tanpa proses yang terlalu rumit, rombongan langsung keluar untuk menaiki Bus yang akan membawa kami ke Hotel. Kalau tidak salah saat itu waktu kurang lebih setengah Jam menjelan Adzan Subuh, harap-harap cemas kami satu rombongan berharap bisa melaksanakan Shalat Subuh Jamaah pertama di Masjid Nabawi. Perjalanan dari Bandara menuju Hotel tidak terlalu lama, kami sempat melewati makam Baqi, kemudian dari kejauhan sudah mulai nampak payung-payung penghias Masjid Nabawi!
Ahhh... Subhanallah!
Hanya itu kata yang mampu terucap, selebihnya hanya hati yang menjerit menahan bermacam perasaan Haru dikarenakan Allah SWT sudah memberikan kesempatan untuk saya dan suami pada hari Ini menginjakkan kaki di Salah Satu Kota Sucinya, Tempat Bagida Rasullulah berhijrah, bermukin dan bahkan terdapat Makam Beliau yang dalam hitungan Jam lagi akan Kami Ziarahi.
Tidak berapa lama kami pun tiba di Hotel tempat kami akan menginap selama di Madinah, yaitu MOVENPICK HOTEL.
MOVENPICK HOTEL merupakan salah satu hotel bintang 5 yang lokasinya hampir bersebelahan dengan Masjid Nabawi.
Pagi itu Suhu udara di Madina sekitar 19 derajat Celcius jadi beda tipis lah dinginnya seperti di Abu Dhabi. Angin dingin kembali menyergap kami ketika kami turun dari Bus untuk masuk ke Hotel. Pagi itu kami tidak punya cukup banyak waktu dikarenakan beberapa menit lagi Adzan Subuh segera berkumandang. Pembimbing Jamaah kami menginstruksikan untuk kami sekedar bersih-bersih di kamar dan segera menuju Lobby Hotel untuk bersama-sama menuju Masjid.
Benar saja tidak lama kami turun kembali ke Lobby, sudah terdengar Adzan berkumandang, tidak mau sampai ketinggalan Shalat pertama di Nabawi, kami pun berlarian menuju Masjid hingga tidak sengaja saya hampir jatuh di jalan :')
Begitu Indah dan terpesonanya saya ketika kaki ini mulai melangkah memasuki pelataran Masjid Nabawi.
Payung-payung yang selama ini hanya saya lihat melalui Televisi, Internet atau photo-photonya mama saya sekarang saya lihat sendiri dengan mata saya.
begitu Indahnya tembok dan pintu-pintu di masjid ini membuat saya semakin ahhhhh..kehabisan kata-kata hanya Alhamdulillah..Alhamdulillah.. dan Alhamdulillah..!
Shalat Subuh pertama di Masjid nabawi saya lakukan di pelataran masjid, karena kami belum paham situasi dan jika kami paksakan masuk ke dalam khawatir kami akan ketinggalan waktu shalat.
Selesai shalat Subuh, saya sempat masuk ke dalam masjid demi mencari Air Zam-zam.
JET LAG ATTACK
Setelah shalat subuh dan mencari Zam-zam, kami kembali ke hotel untuk mandi, istirahat dan sarapan.
Di karenakan Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan dari Jakarta hingga Madinah, maka hari pertama di Madinah kami tidak ada jadwal apapun dan di sarankan untuk banyak berisitirahat dan mempersiapkan diri untuk ZIARAH RAUDHA atau mengunjungi Makan Nabi Muhammad SAW yang rencananya di jadwalkan malam hari setelah waktu makan malam.
Antara
Jet Lag dan rasa antusias yang begitu besar, setelah sarapan rasa ngantuk dan lelah yang semalam sempat saya rasakanpun rasanya lenyap. Dengan penuh semangat (yang agak berlebihan) saya mengajak suami untuk jalan-jalan berkeliling masjid Nabawi yang cukup luas. Dengan tidak lupa niat Sunnah Ke 6 dalam perjalanan kami yaitu PHOTO-PHOTO! hehehehe
Ini beberapa hasil ke Narsisan kami (Saya dan Suami) Pagi itu di Pelataran Masjid Nabawi:
Setelah puas menjalankan SUNAH KE 6 :p , kalau tidak salah saat itu masih pukul 09.00 pagi, seingat saya dari Informasi yang saya dapatkan biasanya jam segini RAUDHA untuk wanita masih di buka, jadilah saya mengajak suami untuk mencari di mana Raudha itu.
Pintu di Masjid Nabawi cukup banyak, dan kami saat itu sama sekali tidak tahu melalui pintu berapa jika ingin masuk ke Raudha. Cukup lama kami putar-putar akhirnya saya menyerah dan kami memutuskan untuk kembali masuk masjid ke tempat masing-masing (saya ka bagian wanita dan suami tentu saja ke bagian laki-laki) untuk melaksanakan shalat Dhuha.
Selesai Shalat Dhuha baru saya merasakan agak mengantuk, mengingat masih ada waktu yang agak panjang menjelang Zuhur, lalu saya mengajak suami untuk kembali istirahat sejenak ke hotel.
Selama di Nabawi, mulai dari pagi ini hingga menjelang kami berangkat ke Mekkah, setiap selesai shalat saya dan suami biasanya janjian di TOILET NO. 9 :p hihiii..
Dalam perjalanan kembali ke hotel suami saya bercerita:
"Ma, tadi papa iseng muter lagi, terus sampai di ujung, papa juga lupa pintu berapa, kok papa lihat ramai orang di sana. Papa masuk ikut antri deh ma.
Subhanallah Ma, Alhamdulillah ternyata itu Pintu masuk RAUDHA!
Papa akhirnya sudah dapat Shalat disana ma"
Suami saya bercerita dengan agak bergetar, mungkin antara takjub dan rasa penuh syukur, dan saya pun yang mendengarnya antara iri namun juga bersyukur ikut bahagia tak terhingga rasanya karena suami saya sudah bisa menginjak TAMAN SURGA!
Semakin tidak sabar rasanya menanti waktu malam giliran saya untuk berada di SANA! :)
PERJUANGAN MEMASUKI TAMAN SURGA (RAUDHAH)
Rasullullah SAW bersabda: "Tempat yang ada diantara rumahku dan mimbarku adalah raudhah (taman) diantara taman-taman surga."
(HR. Bukhari No. 1120)
 |
| Raudhah (sumber: google) |
Malam harinya, setelah makan malam sesuai yang telah dijadwalkan rombongan kami berangkat untuk Ziarah RAUDHAH atau sekaligus mengunjungi makam Nabi MUHAMMAD SAW. Rombongan wanita dan laki-laki tentu saja terpisah, rombongan wanita kami dibimbing oleh seorang Ustajah atau biasa di sebut dengan Mutawif dalam bahasa arab, seorang wanita bercadar yang ternyata asli orang Indonesia dan berlogat Kental Jawa Tengah :)
Sebelum kami memasuki masjid, melalui pintu No. 26 (kalau tidak salah) Mutawif kami memberikan beberapa informasi kondisi dan bagaimana koordinasi untuk kami di dalam nanti.
Yaaappppp.. pergi dengan rombongan untuk masuk Raudhah memang memerlukan koordinasi dengan tim untuk saling menjaga baik ketika akan masuk ataupun selama menjalankan ibadah di dalam. Sudah tidak asing mendengar cerita dari kerabat atau bahkan mama saya tentang mendapatkan kesempatan untuk Shalat 2 rakaat di dalam sana itu butuh perjuangan. Selain karena waktu untuk tempat shalat wanita di batasi hanya pada jam-jam tertentu, tetapi juga lokasi space yang terbatas, berbeda dengan area untuk laki-laki.
Mutawif kami menyarankan untuk tidak ada satupun yang terlepas dari rombongan sebelum kami sampai ke depan pembatas di dalam sana, dan nantinya kami akan saling bergantian untuk berjaga sementara yang lainnya juga bergantian untuk melakukan Shalat 2 rakaat.
Begitu kami masuk, benar saja antrian untuk ke sana sudah cukup mengular.
FYI, jadi Raudhah itu memang berada di dalam masjid nabawi, pembedanya adalah, karpet di keseluruhan masjid berwarna merah, tetapi di area Raudhah ini karpetnya berwarna putih dengan hiasan hijau. Dari Area laki-laki bisa terlihat mimbar dan makam Rasulullah, tapi untuk bagian wanita hanya ada lubang kecil yang biasa di gunakan untuk sekedar mengintip, tetapi Alhamdulillah saya tidak sempat mengintip saking padatnya :')
Begitu Istimewanya Raudhah sehingga memang perjuangan untuk bisa shalat di sana itu luar biasa, dari mulai antri sebelum kaki menginjak karpet putih, kami beberapa kali kena sikut dan dorong-dorongan dengan Jamaah yang mayoritas timur-tengah, tentu saja orang kita kalah tenaga biasanya dengan mereka yang walaupun sama-sama wanita tetapi postur tubuhnya jauh lebih tinggi dan besar dibandingkan perawakan orang Indonesia.
Sebelum berangkat sebetulnya mama saya sudah memberikan beberapa tips and trick untuk saya ketika berada di raudhah kata mama di antaranya:
"Lu, pokoknya nanti begitu kaki sudah menginjak karpet putih Shalat aja, siapa tahu bisa dapat 2 atau 3 kali shalat di sana!"
atau
"Nanti kalau masuk Raudhah santai aja, jangan lawan arus, ikutin aja dorongan orang-orang..Semakin ngelawan bakalan cepat capek di dalam sana"
Alhamdulillaaahhhh tidak satupun pesan mama bisa saya ikutin selama di dalam sana..hiks!
Selain kami sudah diwanti-wanti untuk jangan sampai terpisah dari rombongan tetapi memang kondisi di dalam saat itu saya pikir tidak memungkinkan untuk saya mendapatkan kesempatan shalat di sana.
Aksi saling dorong, berteriak, sikut-sikutan bahkan ada yang sempat menendang orang yang sedang sujud membuat perasaan saya cukup kacau di dalam sana.
Lelah, sesak napas karena terhimpit dengan wanita-wanita timur tengah yang besar-besar membuat saya sempat lebay dan takut MATI :')
Entah bagaimana awalnya, saya berada di barisan paling belakang dari rombongan bersama dengan dua ibu-ibu, yang 1 kira-kira seumur mama saya dan satu lagi sudah agak sepuh. Ibu yang agak sepuh ini untungnya bersama dengan anak perempuannya yang lebih muda dari saya, sehingga mau gak mau saya dan si mbak ini menjadi penutup rombongan di belakang.
Jangankan desak-desakan yang agak makan waktu di sana, di sini aja kalau terlalu ramai kepala saya suka jadi pusing!
Dan ini hampir kejadian di sana, mata saya rasanya mulai agak kabur, napas sudah mulai sesak dan yang terbayang adalah wajah anak-anak saya!
"Ya Allah, kuatkan saya, jangan sampai terjadi apa-apa sama saya di sini ya Allah, anak saya masih kecil-kecil, ampuni dosa saya ya Allah sampai saya merasa begitu berat di sini"
Hanya itu yang berulang-ulang saya ucapkan bersama dengan Istigfar.
Yaaa.. saya begitu mengingat dosa-dosa saya selama ini mungkin yang membuat saya malam itu seolah mengalami keadaan yang begitu beraaat di sana.
Sampai akhirnya dasar manusia yah kebanyakan nyerahnya hehehe
Saya menyerah!
Saya bilang ke Ibu di samping saya
"Bu, saya gak kuat, saya gak mau maksain untuk shalat di sini bu, saya sudah Alhamdulillah bisa masuk dan berdoa di dalam sini"
Dan ternyata pernyataan saya ini di aminkan oleh beberapa anggota rombongan yang berada di depan saya, dan akhirnya kami memutuskan untuk mencari jalan keluar.
Tetapi tiba-tiba si ibu Sepuh yang sama anaknya tadi bilang gini:
"Mbak, jangan keluar dulu, Ibu sudah susah payah masuk sini, Ibu mau dapat shalat dulu mbak."
Ibu itu bicara sambil menahan tangis. Tak tega memang rasanya melihat pengorbanan beliau dengan usia yang tergolong sudah tidak muda ditambah dengan kakinya yang mulai sedikit ada gangguan. Serius tidak adil rasanya jika ibu tersebut tidak bisa mewujudkan harapannya.
Saya kembali melihat kedepan ternyata tinggal 2 atau 3 shaff lagi menuju tempat rombongan kami yang sedang shalat akhirnya saya bilang,
"Mari bu, saya coba buka kan jalan ke depan, begitu ibu sampai saya pamit keluar duluan ya bu, ibu bisa ikut rombongan bersama ustajah"
Walaupun itu tinggal 3 shaf ke depan yang logikanya hanya dalam beberapa langkah kami sampai, tapi perjuangan itu tidak lah mudah, kami harus berhadapan dengan seorang Jamaah asing yang dengan emosi tidak mau memberikan kami jalan.
Bismillahirahmanirahim...tanpa memperdulikan ocehannya yang notabene juga saya tidak mengerti bahasanya saya kuatkan tubuh saya untuk mendorong jalan.
Ngos-ngosan pemirsaaaaa...!!!!!
Lagi tarik napas tiba-tiba saya di kagetkan dengan suara dan tarikan:
"Mbaaaak, sini buruaaann shalat sunah 2 rakaat!"
JREEEENNNGGGGGGGGG..............................!
Tidak sadar kalau tau-tau ada space kosong di hadapan sayaaaaaaaaa!
ALLAHUAAAAKBAAAARRRRRRRRRRR.....!!
Saya langsung berniat shalat dan shalat sambil mengalir air mata di pipi..
Ya Allah.. Ya Rasull begitu banyak pelajaran dalam waktu singkat yang saya dapatkan di Rumah Mu, di Tanah Suci Mu.
Tentang Perjuangan..
Tentang Muhassabah diri..
Tentang Ke pasrahan dan Keikhlasan..
Dan Alhamdulillah akhinya seluruh rombongan kami bisa mendapatkan kesempatan juga untuk shalat di Raudhah di Taman Surga :)
 |
| Rombongan Setelah Keluar dari Raudhah |
DONE DAY 1 at Madinah
To be Continued :)